Walau saat itu menjelang tengah hari namun puncak Gunung Gede diselimuti kelapan mencekam. Langit hitam kelam ditebali awan hitam mendung bergulung. Angin bertiup kencang mengeluarkan suara aneh. Suara deru hujan deras seolah langit koyak terbelah. Udara sangat dingin membungkus puncak gunung. Ditambah dengan gelegar guntur yang sesekali ditimpali sambaran petir membuat suasana benar-benar menggidikkan.
Di tepi sebuah telaga yang terletak di puncak timur Gunung Gede, dua sosok tubuh tampak duduk bersila di tanah yang becek. Sepasang lengan dirangkapkan di depan dada. Mereka tidak bergerak sedikitpun seolah telah berubah menjadi patung tanpa nafas. Sekujur tubuh ke dua orang ini basah kuyup mulai dari rambut sampai ke kaki. Hawa dingin luar biasa membuat tubuh mereka sedingin es! Dua orang ini tidak sedang bersamadi atau bertapa karena sepasang mata mereka memandang tak ber-kesip ke tengah telaga yang airnya mengeluarkan riak seolah mendidih dan mengepulkan asap putih.
Orang termiskin yang aku ketahui adalah
orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang.
– John D. Rockefeller JR
Dalam rubrik Kilasan Kawat Sedunia, Harian KOMPAS pernah memuat ringkasan hasil survei yang menarik perhatian saya. Ia menceritakan hubungan antara uang—indikator utama yang sering dipergunakan untuk mengukur seberapa kaya atau seberapa miskin seorang anak manusia itu—dengan kebahagiaan. Survei yang unik dan jarang dilakukan ini—setahu saya belum pernah ada survei semacam ini di Indonesia—mungkin dapat memberi pelajaran tertentu pada kita. Berikut petikannya:
Pemeo ”uang tak bisa membeli kebahagiaan” ternyata memang benar. Sebuah survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di Sydney masuk kategori warga yang paling menderita di Australia. Sebaliknya, tingkat kebahagiaan warga yang hidup di beberapa daerah pemukiman paling miskin malah lebih tinggi.
”Pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan yang luar biasa kaya,” kata Liz Eckerman, peneliti dari Universitas Deakin, seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (13/2).
”Uang tak bisa membeli kebahagiaan. Ini jelas terbukti dalam jajak pendapat yang kami lakukan pada 23.000 warga yang sudah kami wawancarai,” kata Eckerman kepada Radio Australia, ABC.
Aku dilanda sebuah rasa yang hadirnya karena cinta, rasa yang hampir menyerap seluruh sumber air di mataku. Namanya Rindu. Ketika aku tak bisa memilih kepada siapa aku harus merindu, dan kapan waktunya aku akan berhenti mengecap rasa itu.
Kakiku terus berlari meski pijakannya mulai merapuh hingga tak sekuat kemarin. Sebagai seorang atletik aku dituntut untuk selalu berkembang di setiap kompetisi, namun sekarang aku tak lagi berambisi sebagai juara, aku hanya lari karena aku ingin melakukannya.
Boston, senin 15 April 2013
Dimulai sebuah perayaan tahunan Boston Marathon di Ibukota Massachusets, As. Kami bak sepasang burung yang terbang bebas memecah malam, bersama menghitung bintang-bintang hingga sayap kami tak mampu lagi terbentang. Dan hari ini kami sepasang kijang yang akan berlari di atas tanah yang sama. Aku ingin menghadiahkan trofi boston marathon untuk gadis bernama kinaya itu. Aku ingin bilang padanya. Terima kasih atas lima tahun yang telah kau berikan, kinaya.
Sebelum meninggalkan garis start aku sempat mencium keningnya. semalam kami juga sempat melakukan perayaan kecil. kami melepaskan ratusan balon berbentuk hati ke udara… ’Kay, aku akan pergi ketika aku merasa sangat bahagia’. Desah kinaya malam itu, aku pikir hanya lelucon, gadis itu memang tak pandai membuat lelucon. Namun, kalimat sederhana itu malah membuatku terjaga dari tidurku semalam.
SATUHutan kecil itu terletak di teluk yang sangat sepi. Hanya deburan ombak terdengar menderu di pasir sepanjang siang dan malam hari. Ombak yang begitu ganas membuat teluk itu hampir tak pernah didatangi manusia termasuk nelayan pencari ikan. Tersembunyi di balik kerapatan pepohonan dan semak belukar terdapat sebuah pondok kayu beratap ijuk. Bangunan ini cukup besar, memiliki dua kamar serta langkan lebar. Dua orang tampak duduk di langkan, berhadap-hadapan satu sama lain. Untuk beberapa saat lamanya tak satupun dari mereka membuka mulut bersuara.
Duduk di sebelah kanan di dekat pintu adalah seorang tua berambut sangat putih, berkulit hitam, mengenakan pakaian berupa selempang kain kuning muda. Parasnya yang keriput dimakan usia tampak tenang walau benak dan lubuk hatinya disamaki berbagai pikiran dan perasaan. Di hadapannya duduk bersila seorang pemuda berpakaian putih, berbadan langsing dan berkulit puith halus. Rambutnya yang hitam agak tersuruk oleh ikat kepala putih. Meskipun dia berpakaian cara laki-laki, namun keelokan paras dan kehalusan kulitnya tak dapat menyembunyikan bahwa sebenarnya pemuda ini adalah seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun.
Kisah Umi Diselamatkan Seekor Ular saat Tsunami Aceh
Banyak
kisah yang terjadi 10 tahun lalu, saat gelombang tsunami meluluhlantakkan Aceh.
Namun banyak juga kisah gaib di luar nalar manusia, seperti yang dialami Umi
Kalsum (58).
Nenek berusia 58 tahun yang dikenal dengan panggilan Mak Sum ini selamat dari
maut berkat bantuan seekor ular.
Pada Minggu pagi 26 Desember 10 tahun silam, Umi Kalsum menuturkan, ia sedang
asyik menanam bunga di perkarangan rumannya di Desa Alu Naga, Kabupaten Aceh
Besar. "Saya memang suka bunga sejak dari gadis," ujar Umi, Rabu
(24/12/2014).
Namun tiba-tiba bumi bergoyang dihempas gempa berkekuatan 9,1 skala Ricter.
Beberapa menit setelah gempa orang berlarian sambil berteriak air laut naik.
"Mak jangan lari, kata anak saya, itu air laut sudah naik. Saya lari sama
cucu saya yang saat itu umurnya 5 tahun," cerita Umi.
Belum jauh Umi berlari, tiba-tiba tubuhnya terhempas gelombang tsunami, cucunya
terlepas dari genggaman tangannya.
"Kami sudah teraduk-aduk dalam air, sesaat sempat saya liat cucu saya
dalam air, saya coba raih tapi tidak dapat, yang ada tangan saya kesangkut di
pagar, ini hampir putus," kisah Umi.
Umi Kalsum pun hilang kesadarannya karena terombang-ambing gelombang pekat
tsunami. "Saya sadar pertama sudah di jembatan ini (Jembatan Kajhu), ya subhanallah mulut ular itu di depan
mata saya, tubuh saya itu dililitnya," ujar Umi Kalsum dalam bahasa Aceh.
Umi tidak tahu sejak kapan ular tersebut bersamanya, "Ada yang lihat orang
sini, katanya saya dibawa ular hingga ke tengah sungai, dipikir saya sudah
nggak selamat," ucap dia.
Permukiman Umi Kalsum berada kurang lebih 100 meter dari
pinggiran Pantai Kuala Alu Naga. Awalnya, Umi Kalsum mengira ular tersebut
hanyalah sebatang pohon pisang.
"Warnanya loreng, sampai di jembatan itu saya sudah sadar, begitu lihat
kepala ular, ya subhanallah, saya cuma berucap
selamatkan saya ke darat ya meutuah (mulia),"
kenang Umi. Ular tersebut sebesar tiang listrik.
Saat tubuh Umi dalam lilitan ular tersebut, Umi sempat melihat mayat-mayat
korban tsunami berhanyutan dengan sampah memenuhi Krueng (sungai) Aceh yang
bermuara ke lautan Alu Naga.
"Begitu saya ucapkan selamatkan saya ya meutuah (mulia),
ular itu langsung nyelam dalam air, dengan posisi tubuh saya masih dililit,
sampai saya sangkut dengan sampah di kawasan sungai Lamyong, itu saya masih
dililit," kata Umi.
Sesampainya Umi di kawasan Sungai Lamyong, beberapa menit kemudian seorang
remaja melemparkannya sehelai baju kaos, disusul seorang wanita yang
memberikannya sehelai gorden untuk menutupi tubuhnya.
"Baju saya udah koyak semuanya, tinggal benang di leher saja," imbuh
Umi.
Setelah Umi menutupi tubuhnya barulah datang 3 pemuda, yang
menurutnya ketiga pemuda itu merupakan relawan Palang Merah Indonesia (PMI).
"Ditarik badan saya dari lilitan ular, tiba-tiba ular itu melepas saya
dengan meluruskan tubuhnya, dan pergi entah ke mana," lanjut Umi.
"Sempat saya bilang sama anak itu, pas ditarik saya, nak ada ular, tidak
apa-apa katanya dia nggak ganggu kita," cerita nenek yang juga kehilangan
30 sanak saudaranya saat tsunami menghantam desanya.
Selain itu Umi juga melihat ayam jago miliknya juga selamat berenang di atas
sehelai papan tidur miliknya. "Ayam meutuah (mulia)
itu juga selamat di atas papan tidur saya, itulah mungkin kuasa Allah,"
ujar Umi.
Setelah diselamatkan relawan PMI, Umi sempat mendapatkan perawatan. Namun
karena kondisi saat itu tidak kondusif dan tubuhnya yang lelah, dia sempat
tertidur di jalanan, hingga tubuhnya diangkut dan diletakkan dengan tumpukan
mayat lainnya.
"Saya diangkut ke daerah kuburan T Nyak Arif ditumpukin saya dengan mayat
di situ," tutur Umi.
Kini, setelah tsunami Aceh berlalu, Umi kembali lagi ke kampung
halamannya menata kehidupan dan bergelut kembali dengan kegiatannya sama
seperti sebelum terjadinya bencana tersebut.
"Kerjaan saya bidan kampung, obatin orang, mandiin mayat orang perempuan,
cukur rambut bayi, hadiri kenduri gitu," pungkas Umi Kalsum. (Ans/Mut)
Untung, itulah nama guru yang teladan, namun namanya tak sebaik kisahnya.
selain tidak mempunyai lengan dan tangan,
pak untung juga digaji Rp.300.000 selama kurang lebih 22 tahun mengabdi sebagai guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Fisik Untung yang tak sempurna, namun kegigihannya luar biasa.Untung tak memiliki lengan. Namun itu semua bukanlah penghalang bagi
Untung tetap gigih menularkan ilmu ke murid-murid tercintanya.
Tak ada lengan, kaki pun jadi. Dengan lihai, Untung menggerakan
kakinya untuk mengoperasikan tombol-tombol laptop. Untung pun tak
canggung untuk menuliskan lafal ayat-ayat suci Al Quran di papan tulis
agar murid-muridnya lebih mengerti.
Materi yang diajarkannya tak kalah dengan tulisan tangan normal.
Tulisan kaki Untung sangat rapi dan mudah dipahami. Namun Selama 22 tahun
sudah Untung mengabdi sebagai tenaga pendidik honorer dan Ia hanya
mendapat gaji Rp 300 ribu saja.
Perhatian yang kurang dari pemerintah bukan berarti harus
berkeluh-kesah. Guru Untung memilih untuk tetap semangat menjalani hidup
demi menghidup istri dan 2 anaknya.
Untung berternak ayam di rumahnya. Saat sore hari, Untung pun membuka pengajian dengan jumlah murid mencapai 120 orang. Untung hanyalah 1 dari contoh guru teladan yang kini semakin jarang ditemukan.
Lihat Videonya dibawah ini :
SELAMAT HARI GURU - SEMOGA KISAH DARI PAK UNTUNG MENJADI INSPIRASI KITA SEMUA
sumber: liputan 6 dan Detik TV