Tampilkan postingan dengan label cerita inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita inspirasi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Oktober 2014

Asal Usul Lambang Pancasila Pertama


Lambang pancasila pertama adalah 

wujud seorang manusia yang berkepala Garuda dan menggenggam perisai Pancasila. Itulah desain pertama Pancasila. Soekarno kemudian memberikan beberapa usul, manusia Garuda diubah sepenuhnya menjadi burung garuda. Tapi saat itu burung garuda masih 'gundul' dan tidak berjambul.


Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut. Beberapa yang diperbaiki antara lain penambahan jambul pada kepala Garuda Pancasila. Selain itu mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di depan pita.

Banyak yang menduga Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat.
Pancasila diagung-agungkan sebagai dasar negara Indonesia. Lambang burung Garuda dipasang di setiap ruang kelas dan institusi resmi. Tapi nama pembuat lambang Garuda Pancasila seolah dilupakan. Hanya segelintir orang yang mengenal Sutan Hamid Algadrie atau Sultan Hamid II sebagai pembuatnya. Hamid II malah lebih dikenal sebagai pemberontak.

Sosoknya ganteng, tegap dan perlente. Di darahnya mengalir darah ningrat Kesultanan Pontianak. Dia satu dari sedikit orang pribumi yang bisa lulus Akademi Militer Belanda di Breda. Sultan Syarif Hamid Alqadri dilahirkan 12 Juli 1913. Putra Sultan Syarif Muhammad Alkadri, Sultan keenam Pontianak.
pembuat lambang pancasila


Walau terlahir dari Kesultanan Islam, kehidupan Hamid Alqadri sepertinya lebih ke-Eropa-eropaan. Dia sempat masuk Technische Hooge School (THS). Tetapi dia akhirnya lebih memilih menjadi perwira tentara Belanda yang disebut Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Hamid muda memutuskan masuk ke Koninklijke Militaire Academie di Breda. Dia mengaku sangat tertarik dengan kehidupan militer.

Setelah lulus, Hamid menjadi Letnan II. Hamid juga menikah dengan wanita Belanda bernama Marie van Delden. Wanita yang dikenal dengan nama Dina Van Delden ini putri Kapten seorang tentara Belanda.

Masuknya Jepang, menghancurkan kekuatan Belanda di Nusantara. Hamid yang sempat berperang di Balikpapan ini kemudian dijebloskan Jepang ke penjara di Batavia. Dia ditahan dari tahun 1942-1945. Baru bebas setelah Jepang dikalahkan sekutu.

Hamid kembali menjadi tentara Belanda. Pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel, kemudian Jenderal Mayor. Mungkin dia pribumi dengan pangkat militer tertinggi. Tapi akhirnya dia melepaskan diri dari dinas militer dan memimpin rakyat Pontianak.

Diakui Hamid, sebuah keputusan yang berat meninggalkan dunia ketentaraan. Apalagi dia diangkat menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda Wilhelmina.

Kemudian Sultan Hamid menjadi Ketua Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). Forum negara-negara federal di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap BFO adalah boneka Belanda, walau pendapat ini tak selamanya benar.

Saat Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, Hamid diangkat Soekarno untuk menjadi menteri negara. Tugasnya menyediakan gedung dan menciptakan lambang negara.
Karir politik Hamid sendiri berakhir tak lama berselang. Dia bersekutu dengan Westerling untuk menyerang sidang kabinet di Pejambon. Hamid memerintahkan Westerling membunuh menteri pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX , Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang dan Sekjen Kementerian Pertahanan Ali Budiarjo.

Percobaan pembunuhan itu gagal. Sultan Hamengkubuwono IX menangkap Sultan Hamid II. Dia diadili tahun 1953. Pembelaan dirinya ditolak. Pengadilan mengganjarnya dengan hukuman 10 tahun penjara atas kesalahan menggerakkan pemberontakan.

Nama Hamid pun dikenal sebagai pemberontak. Begitu yang tertulis di buku-buku sejarah. Jasanya menciptakan burung Garuda seolah dilupakan.

sumber : merdeka.com
Read more ...
Sabtu, 25 Oktober 2014

Gembala itik

Kura-kura dan Gembala




Sekali waktu pernah kuperhatikan reptil yang ada di rumah, binatang kura-kura atau kuya-kuya (kata anakku yang masih belajar ngomong). Dengan tenangnya dia berenang-renang di kolam sambil mencari makanan yang ada. Tatkala ada sedikit yang mengejutkan dirinya maka akan ditariknya kepalanya kedalam tempurungnya, terkadang kaki-kakinya ditariknya pula. Betapa tenangnya dirinya berada dalam tempurungnya, karena dia yakin akan kekuatan yang ada dalam dirinya. Dengan kesadaran pula kita dapat belajar untuk seperti kura-kura berusaha untuk menarik dan menguasai segenap panca indra yang ada di diri kita, tangan, kaki, mata, mulut, telinga, hidung dan segenap yang ada yang dalam badan kita. Kita kenali semuanya, pikiran kita pun kita pelajari hingga akhirnya kita dapat belajar menyelami betapa liarnya pikiran kita. Dengan kesadaran untuk belajar menyelami pikiran kita dan belajar menguasai segenap indra kita, mudah-mudahan akan semakin membangkitkan kesadaran hidup dan pengendalian diri serta kitapun semakin bijak dalam menjalani hidup.

Begitu juga dengan seorang gembala itik, sungguh tidak mudah untuk menggembalakan sekawanan itik terkadang ada satu atau dua ekor itik yang susah untuk diaturnya. Dengan sabarnya dia menggembalakan itiknya, dan kalaupun ada satu-dua yang melenceng jalannya dan hilang maka dia akan berusaha untuk meluruskan dan mencarinya dan mengarahkan hingga semuanya sampai ketujuan. Kalaupun ada satu yang sakit diapun akan mengobatinya hingga sembuh. Seperti seorang gembala kitapun juga bisa belajar untuk menggembalakan segenap panca indra kita dan pikiran kita. Terkadang perut ingin makanan namun mulut rasanya malas untuk mengunyahnya. Terkadang ingin main namun kaki terasa berat untuk melangkah. Menggembalakan segenap indra dan pikiran kita dibutuhkan sebuah kesadaran dan kesabaran serta kemauan untuk terus belajar. Mencoba belajar untuk menggembalakan segenap ego dan ke-Aku-an yang ada dalam diri kita dibutuhkan keberanian. Belajar untuk melayani dengan ketulusan sungguh mengagumkan. Minimal belajar untuk menjadi seorang gembala bagi diri kita dahulu. Kemudian bisa diperluas menjadi gembala bagi keluarga dan lingkungan sekitar kita, apabila kita sadar kalau kita mampu menjadi seorang gembala yang sejati.

Sebuah cacatan perjalanan mencari kesadaran dari seekor kura-kura dan seorang penggembala itik

Sumber : Kham Tjahjo Purnomo
Read more ...
Kunjungi Tas Anak - Support Harga Tas Anak and Kontak Kami